Beredar unggahan di Instagram yang menyebutkan bahwa setiap Ramadhan dan Lebaran, perekonomian Indonesia mengalami perubahan signifikan. Hal ini dikaitkan dengan meningkatnya aktivitas belanja masyarakat, pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), serta banyaknya promo di pusat perbelanjaan. Perputaran uang yang besar tersebut disebut-sebut dapat memicu inflasi.
Secara umum, inflasi adalah kondisi ketika harga barang dan jasa meningkat terus-menerus sehingga daya beli masyarakat menurun.
Menanggapi hal tersebut, ekonom Wijayanto Samirin menjelaskan bahwa kenaikan harga menjelang dan saat Ramadhan serta Lebaran merupakan fenomena yang wajar. Salah satu penyebab utamanya adalah meningkatnya permintaan masyarakat (demand-pull inflation). Selain itu, faktor cuaca dan gangguan distribusi juga dapat mendorong kenaikan biaya produksi (cost-push inflation).
Di sisi lain, kondisi global yang belum stabil dapat menekan nilai tukar rupiah. Jika rupiah melemah, harga barang impor berpotensi naik dan memicu imported inflation.
Untuk tahun ini, tekanan inflasi saat Ramadhan dan Lebaran diperkirakan tetap ada. Namun, kenaikannya tidak terlalu tinggi karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Meski demikian, kombinasi pelemahan rupiah, meningkatnya permintaan, dan tidak adanya beberapa insentif seperti tahun lalu bisa membuat inflasi sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Wijayanto berharap pemerintah dapat mengambil langkah antisipatif agar kenaikan harga tetap terkendali dan tidak semakin membebani masyarakat.
Sumber: Kompas.com